Galang Deradikalisasi Rektor Didemo, Solahuddin: Aksi Mahasiswa “Ditunggangi” Oknum Terpapar Radikalisme

Medan – Patennews.com: Beberapa pekan belakangan ini fenomena di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) terbilang aneh. Ada kegiatan yang seperti bertolakbelakang yang dilakukan rektor dengan mahasiswa di kampus jajaran Kementrian Agama Republik Indonesia  (Kemenag RI) itu.

Soalnya, rektor lagi gencar-gencarnya konsentrasi melakukan deradikalisasi atau strategi untuk menetralisir paham-paham radikal. Namun  sebaliknya, terkesan mahasiswa malah mau menjatuhkan orang nomor wahid yang melaksanakan program selaras dengan pemerintah pusat  di kampus tersebut. Di antaranya, lewat kasus korupsi yang sedang ditangani Polda Sumut.

Tak pelak dua kondisi fenomena antagonis itupun  membuat Ketua Gerakan Da’i Kerukunan & Kebangsaan angkat bicara. Bahkan, dinilai kalau aksi para mahasiswa beberapa pekan belakangan tersebut disinyalir ditunggangi oknum-oknum yang diduga kuat terpapar radikalisme.

Setidaknya,  kepada Patennews.com, (1/10), Ketua GDKK  Solahuddin Harahap mengatakan, saat ini beberapa pekan belakangan ini, Rektor UIN-SU, TGS Prof. Dr. KH. Saidurrahman, M. Ag secara terus menerus mendorong agar Pusat Kajian Deradikalisasi dan Moderasi  Beragama di kampus tersebut dapat melakukan upaya-upaya strategis yang dapat  menyahuti Program Menteri Agama H. Fachrurrozi yang sedang konsentrasi dalam pencegahan dan penaggulangan radikalisme atau ‘manipulator agama’.

Selain konsentrasi  kegiatan deradikalisasi dilakukan rektor di dalam kampus, di luar kampus rektor juga  melaksanakan kegiatan-kegiatan yang konsentrasinya deradikalisasi. “Ada beberapa seminar dan penyuluhan yang telah kami lakukan bersama rektor untuk program deradikalisasi,” tegas Solahuddin Harahap.

Anehnya di tengah-tengah kondisi tersebut,  aksi mahasiswa di dalam kampus seperti signifikan mengimbangi gencarnya kegiatan rektor yang melawan paham-paham bermuara terorisme itu. “Dengan melakukan asksi diduga ‘meng-kambinghitamkan’ kasus dugaan korupsi yang lagi ditangani Polda Sumut,”  urainya.

Apalagi, terang Solahuddin, aksi mahasiswa tak hanya datang dari dalam kampus UIN Sumut, namun mahasiswa di luar UIN Sumut juga turut melakukan aksi. “Dari signifikasi gerakan mahasiswa di luar kampus dan di dalam kampus itu, kami mencium aroma kalau aksi adik-adik mahasiswa ditunggangi oknum yang diduga terpapar radikalisasi, dan kasus di Poldasu itu hanya sebagai  kambinghitam,” ulasnya.

Tak logis, jelas Solahuddin, kalau ada para mahasiswa di luar Kampus UINSU yang menggelar aksi menyoroti dugaan korupsi  di lingkungan Kampus UIN-SU. “Inilah yang menambah kecurigaan kami semakin kuat, bahwasannya aksi para mahasiswa beberapa pekan belakangan di tunggangi oknum terpapar radikalisme,” rincinya.

Kalau hanya seputar kasus korupsi tak mungkin aksi bisa melebar seperti ini, hampir setiap hari dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil mahasiswa. “Oleh karenanya, kita meminta Badan Nasional Penanggulangan Teroris untuk mengambil sikap,” harapnya.

Lagian pula kalau kasus korupsi di UIN-SU, itukan sudah di tangani oleh Polda Sumut yang terbilang telah professional untuk mendeteksi kerugian negara.  “ Biasanya dalam persoalan ini mahasiswa lebih jernih berpikirnya  dan lebih ilmiahm, serta terstruktur memahaminya. Artinya untuk bukan lagi gawenya mahasiswa yang idealnya lagi menuntut ilmu, namun sudah wilayah kepolisian,” tandas Solahuddin Harahap. (dra).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *