Pelatihan Santri, Arif : Orang Baik Jangan Lelah Lawan Hoax

Medan – Patennews.com : Berita hoax yang kemunculannya di tengah-tengah masyarakat sudah seperti cendawan tumbuh di musim hujan. Tampaknya, mengundang perhatian serius dari elemen masayarakat, baik pegiat agama, sosial, maupun institusi pemerintah, guna melawan informasi yang sifatnya menghasut dan membuat kegaduhan itu.

Salah satunya, perlawanan datang dari PW Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama Sumatera Utara (PW RMI NU Sumut). Tak, tanggung-tanggung untuk melawan berita hoax, elemen masyarakat religi itupun menggelar pelatihan selama 3 hari, guna membekali Santri NU, melawan berita menghasut, yang dalam ajaran Islam mengandung dosa.

“Santri yang notabene adalah orang baik atau penerus bahasa kiyai, ulama dan ustadz, jangan pernah lelah melawan hoax yang menabur hasutan kebencian itu,” kata ketua PW RMI NU Sumut, Arif Muda Harahap MHum, saat menyampaikan sambutan pembukaan pelatihan, Sabtu (16/03), di Aula Ma’had Tahfiz Alfarabi Medan.

Lebih lanjut dikatakannya, melawan hoax ini sama dengan melawan kemungkaran atau kebathilan bin perbuatan dosa. “Sebagai muslim untuk memberangus perbuatan-perbuatan dosa atau kemungkaran, semacam ada keharusan. Setidaknya, jika tak sanggup dengan tangan sendiri atau kekuatan, maka serendah-rendah sikap adalah mendoakannya, agar perbuatan dosa tersebut tak berlangsung lagi,”urainya.

Lebih rinci, terang Arif, melawan berita hoax yang umumnya dilakukan lewat komunikasi Media Sosial (Medsos). Efektifnya, tentulah dengan melakukan klarifikasi, tabayun atau diskusi, tibyanan atau informtif, iklaman atau memberikan informasi pembanding.

Dia juga memaparkan, untuk melawan berita hoax yang hakikinya sudah ada sejak zaman ke-nabian, klarifikasi atau sejenisnya, sebaiknya menggunakan kata-kata atau bahasa yang beradab. Artinya bila melakukan klarifikasi lewat medsos pilihlah bahasa-bahasa yang sopan dan santun.

Sebab, selain santri juga harus melawan kebathilan, didiri santri yang merupakan calon-calon pewaris ulama, kyai dan ustadz, juga melekat kewajiban sebagai penjaga dan pengawal akhlak ummat.

Apalagi jauh sebelumnya, soal penggunaan bahasa ini, Imam Ali yang merupakan Khulafaur Rasyidin atau Khalifah setelah Nabi Muhammad SAW  pernah mengingatkan, bahwa tutur kata dari seseorang yang keluar adalah barometer untuk mengukur kwalitas akal seseorang. “Itu artinya bahasa anda cerminan kwalitas akal anda,” tukasnya kepada para Santri tersebut.

Ditegaskannya, santri jangan pernah lelah melawan hoax, terlebih lagi di musim-musim pemilihan pemimpin negeri ini. “Sebab bila calon pemimpin yang baik terus-terusan dihasut dengan berita hoax dan dibiarkan, maka kita akan kehilangan pemimpin yang baik. Begitu juga sebalik, bila kita biarkan hoax yang cendrung datang dari orang bathil bin jahat, maka kejahatan akan menang dan merajai orang baik,” tutupnya.

Sebelumnya, Ketua Panitia Pelatihan Santri NU, Julpian Harahap SE MM mengatakan, bahwsannya kegiatan Pelatihan Santri NU, dengan thema “Santri Menolak Hoax” akan digelar selama 3 hari, mulai dari 16-18 Maret 2019.

“Hari pertama menghadirkan Santri Nahdiyin asal Medan sebanyak 350 orang, kemudian hari kedua menghadirkan Santri Nahdiyin asal Deli Serdang sejumlah 350 orang, hari ketiga akan menghadirkan santri sebanyak 300 orang asal Kota Binjai. Artinya, secara keseluruhan kita melakukan pelatihan terhadap santri untuk melawan hoax sebanyak 1000 orang,” bilangnya.

Untuk mengisi kegiatan-kegiatan itu, tambah Julpian, kita menghadirkan mentor atau narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi serta religi, di antaranya, Khatib Am PWNU Sumut Dr Abrar Dawud Faza, MA, Dr Solahuddin Harahap MA. (anto).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *