Mahasiswa S2 Inkes Helvetia Kunjungan ke PKS Pagar Marbau PTPN2

Medan-Patennews.com: Dalam rangka bulan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) Nasional Tahun 2020, Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat (MKM) Peminatan K3 Institusi Kesehatan (Inkes) Helvetia Medan melakukan kunjungan ke PTP II Pabrik] Kelapa Sawit (PKS) Pagar Marbau. Sabtu (15/2).

Kedatangan mahasiswa berjumlah 18 orang yang didampingi dosen pembimbing Mata Kuliah K3 Dr. Tri Niswati Utami, M.Kes yang diterima dengan sangat baik oleh Plt. Manager Jaya Brana Sembiring.

Sebelum menuju pabrik untuk melihat proses produksi pengolahan minyak, terlebih dahulu diberikan arahan safety induction, yaitu pengenalan dasar keselamatan dan kesehatan kerja bagi tamu, karyawan baru dan pengunjung.

Secara rinci manajer menerangkan rambu-rambu keselamatan di pabrik, hal-hal yang harus dipatuhi, peralatan keselamatan, proses produksi dan pengolahan minyak hingga limbah hasil produksi.

Pabrik Kelapa Sawit Pagar Marbau, yang berdiri sejak tahun 1927 merupakan pengolahan minyak yang telah mendapatkan akreditasi PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan) Bendera Biru.

“PROPER merupakan penilaian terhadap kinerja perusahaan dalam pengelolaan
lingkungan yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, ditandai dengan bendera biru, hijau dan emas,” ulas Plt manajer.

Keberadaan industri atau pabrik selalu mendapat mind set negatif bagi masyarakat disekitar, tidak sepenuhnya benar. Seperti PKS Pagar Marbau.

“Mungkin hanya orang-orang yang bekerja di lingkungan pabrik yang mengetahui, bahwa pabrik kelapa sawit yang telah berdiri 120 tahun ini ternyata memberikan sumbangan yang sangat besar kepada masyarakat dan Negara,” sebutnya.

Sumbangan itu berasal dari limbah hasil produksi. PKS telah mampu mengolah limbah gas metan menjadi sumber energi listrik yang dijual kepada Perusahaan Listrik Negara sebesar 1 juta/kwh/jam.

Selama 4 bulan ini, terangnya, sekitar 600 – 800 Kwh/hari daya yang dihasilkan. Pengolahan CPO menghasilkan gas metan yang selama ini dibuang ke udara, kemudian ditangkap dalam sungkup melalui mesin pemisah. Gas CH4 diolah menjadi bahan bakar mesin yang menghasilkan
daya energi.

Apabila mesin beroperasi selama 20 hari dan 20 jam maka income yang diperoleh mencapai 400 juta dalam 1 bulan. “Sambil berenang minum air,” pepatah Plt. Manajer mendekatkan paham atas kinerja perusahaan

Disinilah kesempatan bagi mahasiswa
program studi S2 Magister Kesehatan Masyarakat, untuk belajar sambil menggali pengalaman dan ilmu dari praktisi lapangan. Dengan demikian sumber belajar lapangan memberikan pemahaman
situasi secara nyata dunia industri dan proses produksi.

Sementara dari diskusi dengan manajer itu, antusiasme mahasiswa terlihat cukup hangat, terlihat dari banyak pertanyaan mahasiswa yang meluncur dari rasa ingin tau mereka dalam sesi tanya jawab.

Memasuki era industrialisasi, keberadaan mesin sebagai alat produksi sangat membantu pekerjaan manusia dari segi efektivitas dan efisiensi.

Namun disisi lain, mesin dapat menjadi ancaman bagi pekerja itu sendiri jika dalam bekerja tidak sesuai Standar Operasional Procedure (SOP).

Beberapa kasus kecelakaan yang pernah terjadi pada pekerja, rerata karena mempunyai masalah pribadi. Sehingga untuk mencegah munculnya kasus yang sama peran manajer sangat menentukan.

Sebelum bekerja para karyawan berkumpul bersama, berdoa, berserah diri, memohon keselamatan dan menyerahkan semua urusan pada Tuhan.

Diharapkan semua permasalahan pribadi tidak membebani pekerja sehingga lebih ringan untuk melakukan pekerjaan. Oleh karena para pekerja dihadapkan pada risiko bahaya kerja seperti mesin produksi.

Sebagai seorang pelaksana tugas Manajer, Jaya Bana Sembiring telah menunjukkan kearifan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Dalam kondisi hujan lebat dan terdapat genangan air.

“Terkadang dalam peristiwa, seperti banjir semacam ini perlu diambil langkah Inisiatif untuk mengeringkan lokasi pabrik dengan menyewa pompa air, sebab mesin harus memproduksi. Meskipun secara prosedural harus melapor kepada kantor direksi, namun karena bisa memakan waktu hingga 1 bulan, maka inisiatif harus diambil agar tak mengganggu proses produksi yang dapat berdampak pada menurunnya minyak yang dihasilkan,” sebutnya.

Hingga saat ini manajer melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan SOP yang berlaku, apabila ditemukan karyawan/pegawai yang tidak mematuhi peraturan kerja, diberikan
teguran 1,2,3 jika tidak diindahkan diberikan peringatan 1,2,3. Apabila peringatan ke 3 tidak diindahkan maka dilakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

Kemudian, pekerja yang mempunyai
masalah diwajibkan untuk melapor dan berkonsultasi kepada manajer, bila masalah dianggap berat maka pekerja diistirahatkan dan dilarang berada di pabrik.

“Ini adalah salah satu upaya pencegahan kecelakaan kerja. Mengingat kecelakaan kerja dapat terjadi karena unsafe condition
(kondisi/lingkungan kerja yang tidak aman) dan unsafe act (tindakan yang tidak aman),” ulasnya.

Data ILO International Labour Organization (Organisasi buruh dunia) mencatat bahwa 85% kasus kecelakaan kerja karena tindakan yang tidak aman.

Sinergisitas antara perguruan tinggi dan industri, memudahkan dalam capaian pembelajaran mata kuliah Keselamatan Kerja dan Manajemen Risiko. Mahasiswa dapat mencapai kompetensi pengenalan peralatan keselamatan, jenis APD (Alat Pelindung Diri), potensi bahaya kerja dan mengembangkan daya analisis pencegahan kecelakaan kerja melalui manajemen perilaku kerja.

Disisi lain perusahaan, mendapat masukan dari Institut Kesehatan Helvetia, untuk meningkatkan penerapan APD khususnya earplug (sumbat telinga) dan earmuff (penutup telinga) bagi pekerja yang berhadapan dengan mesin yang bising, karena keberadaan alat ini dapat menurunkan 25 – 30 dB sumber bising dari mesin produksi. (Ical)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *