Krisis di Depan Mata, Jokowi: Gas dan Rem Harus se-Irama

Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan krisis global dampak pandemi Covid-19 nyata adanya. Arahan ‘gas-rem’ seirama pun digaungkan sang presiden. Hal itu disampaikan Jokowi saat memberikan pengarahan terkait penanganan COVID-19 di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/6/2020).

“Kemarin saya mendapat informasi bahwa krisis ekonomi global itu benar-benar nyata, ada bener dan semua merasakan,” kata Jokowi seperti dilihat dari YouTube Setpres.

Jokowi menuturkan IMF bahkan memprediksi pertumbuhan ekonomi negara besar menurun tajam. Misalnya, Amerika yang pertumbuhan ekonominya diprediksi menurun hingga minus 8.

“IMF menyampaikan memprediksi bahwa tahun 2020 Amerika akan pertumbuhan ekonominya akan -8. Jepang akan -5,8 persen. Inggris akan -10,2 persen, Prancis akan -12,5 persen, Italia akan -12,28 persen, Spanyol akan -12,8 persen, Jerman -7,5 persen,” tuturnya.

“Artinya apa, demand tadi akan terganggu. Kalau demand terganggu, supply-nya akan terganggu. Kalau supply-nya terganggu, artinya produksi juga akan terganggu. Artinya, demand-supply produksi semuanya rusak dan terganggu,” sambung Jokowi.

Jokowi meminta seluruh masyarakat memahami kondisi ini. Pandemi COVID-19 disebutnya tak hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga pada ekonomi.

“Inilah yang harus kita ketahui bersama. Bahwa kita dalam proses mengendalikan COVID urusan kesehatan, tapi kita juga memiliki masalah yang lain, yaitu urusan ekonomi. Indonesia 1,5 bulan yang lalu, saya telepon pada managing director-nya IMF, Ibu Kristalina, bahwa betul-betul dunia global pada posisi krisis ekonomi yang tidak mudah, yang lebih berat dari depresi besar tahun 1930,” tutur Jokowi.

Masih terkait soal ekonomi, Jokowi mengingatkan kepala daerah harus mengambil keputusan yang seimbang dalam menangani krisis COVID-19. Aspek kesehatan dan ekonomi harus sama-sama diperhatikan.

Jokowi menceritakan perbincangannya dengan Managing Director IMF Kristalina Georgieva pada 1,5 bulan lalu. Kristalina menyampaikan bahwa dunia dalam kondisi krisis ekonomi yang tidak mudah.

“Oleh sebab itu, dalam mengelola manajemen krisis ini, rem dan gas harus benar-benar seimbang,” kata Jokowi.

“Tidak bisa kita gas di urusan ekonomi tapi kesehatannya menjadi terabaikan. Tidak bisa juga kita konsentrasi penuh di urusan kesehatan, tapi ekonomi menjadi sangat terganggu,” sambungnya.

Hal ini selalu disampaikan Jokowi dalam arahannya kepada kepala daerah. Dia mengatakan menjaga keseimbangan antara aspek kesehatan dan ekonomi di tengah krisis COVID-19 memang tak mudah.

“Gas dan rem ini saya selalu sampaikan ke gubernur, bupati, walikota ini harus pas betul. Ada balance, ada keseimbangan, sehingga semua dapat dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Inilah sulitnya saat ini,” ungkap Jokowi. (detik.com).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *