Kondisi Rumah Memprihatinkan, Keluarga Efendi Nyaris Tidur Beratap Langit

*Amiruddin Berang, Data Pembangunan Pemerintah tak Update

Aceh Tamiang – Patennews.com : Hampir 1 abad Negara Republik Indonesia merdeka, namun dalam mengisi pembangunan yang telah dituangkan dalam landasan konstitusi di negeri yang merdeka dengan tetesan darah pejuang itu, tampaknya masih jauh dari keberhasilan.

Apa tidak, pemerintah atau negara, yang dalam konstitusi atau UUD 1945 menjamin kehidupan yang layak bagi warganya. Ternyata di usia kemerdekaan yang ke 73 masih ada warganya yang terbilang hidup tak layak.

Adalah Surya Efendi warga Kecamatan Seruway Desa Sidodadi, harus tinggal dengan kondisi rumah yang memprihatinkan.

Kondisi dinding rumah yang berbahan baku dari anyaman bambu alias dinding tepas, dan nyaris rubuh itu. Tentu, bagi yang melihatnya akan bisa merasakan jahatnya angin malam yang menjadi konsekwensi dan harus diterima keluarga Surya Efendi itu.

Lain lagi, resiko sengatan binatang, seperti lipan, kala jengking, bahkan ular, tampak mengancam keselamatan keluarga yang dinding rumahnya dari tepas dan sudah koyak-koyak serta mau ambruk tersebut.

Tak itu saja, atap rumahnya yang bocorpun, sudah bisa mengantarkan bayangan bagi yang melihatnya, bahwa penghuni rumah selalu terganggu istirahat malamnya, terlebih bila hujan turun.

“Meskipun kami telah tertidur lelap di malam hari, namun ketika hujan turun, kami harus terbangun, karena tetesan air hujan masuk ke kamar lewat atap-atap yang bocor itu.” ungkap Surya Efendi kepada Patennews.com, baru-baru ini.

Padahal, lanjut pria yang sering disapa Efendi itu, siangnya atap berbahan baku rumbia itu, sering kami tambal sulam. “Namun tetap saja bocor malam harinya bila hujan turun,” ucap Efendi bernada kesal.

Tak ada pilihan lain, lanjut Efendi, bila di malam hari hujan turun, kamipun tak bisa tidur karena atap yang tak bocor hanya seluas untuk anak-anak kami tidur.

Artinya, karena banyaknya atap yang sudah bocor, sehingga bila orang dewasa tidur merebahkan badannya, maka sebahagian tubuhnya akan terkena tetesan air hujan.

“Kondisi rumah, ya ginilah bang, abang bisa lihat sendiri. Pastinya dengan keterpurukan ekonomi ini, kami sangat berharap pemerintah mengulurkan tangan, saya kasian melihat anak-anak yang tiap malam dikerubuti nyamuk dan istirahatnya terganggu,” ungkap Efendi berharap.

Sedikit bernada kesal, Efendi juga mengaku kecewa, dengan tidak adanya kesempatan yang diberikan pemerintah untuk bangkit dari keterpurukan.

“Maunya adalah bang bantuan pemerintah, kalaupun tidak memperbaiki rumah, kan bisa dibantu usaha dengan hibah ternak bibit atau yang lainnya,” ketusnya.

Sementara Muhammad Amiruddin SPd menyikapi masih adanya warga yang hidup tak layak mengatakan, ada yang salah di pemerintahan Kabupaten Aceh Tamiang.

Dalam persoalan itu, tampak jelas fungsi pemerintah sebagai penyelenggara anggaran, berjalan sendiri-sendiri dengan fungsi DPRK selaku lembaga kontroling, monitoring maupun budgeting.

Akan sangat salah besar penyelenggara pemerintahan baik eksekutif maupun legislatif, bila masih ada warga yang kehidupannya tak layak.

Berdasarkan amanat UUD 1945 yang sekaligus sebagai sumber hukum dan sumber peraturan, telah mengamanatkan kalau kalau kehidupan yang layak bagi warganya dijamin pemerintah.

Maka, lanjut pria yang akrab disebut Amiruddin itu, mengacu dari landasan konstitusi itulah pemerintah dan DPRK seharusnya bergerak menjalankan roda pemerintahan, yang muaranya untuk kemakmuran rakyat.

“Saya jadi prihatin kenapa pemerintah dan DPRK tak peka dengan kondisi warganya, dan ke depan program pemerintah ini harus bersama-sama kita kontrol,” ungkap Amiruddin yang juga calon legislatif dari Partai Demokrat nomor urut 10 di Daerah Pemilihan (Dapil) 2 tersebut.(Burhan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *