Jadi Tahanan KPK, Novanto Ikhlas Lepaskan Ketua Umum Golkar

Jakarta | Mendekamnya Setya Novanto menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK-RI) yang tersandung kasus e-KTP. Agaknya mempengaruhi iklim politik di internal Partai Golkar.

Tak pelak, menjawab nuansa politis di lingkungan partai beringin itu, Novanto sapaan akrab dari Setya Novanto itu melalui sekretarisnya Idrus Marham memberikan sinyal kerelaannya melepas jabatan Ketua Umum Golkar.

Setidaknya, Senini (20/11) Sekretaris Jenderal DPP Golkar, Idrus Marham mengatakan bahwa Setya Novanto ikhlas melepaskan jabatan yang diembannya sebagai Ketua Umum Golkar. “Apalagi pasca dirinya harus mendekam di rumah tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena kasus dugaan korupsi proyek pengadaan proyek e-KTP,” tegasnya.

Sikap politik Novanto itu, rinci Idrus, sepertinya sudah bulat dan meyakinkan “Dari hati ke hati pak Novanto sudah menyampaikan kepada saya. Kalau memang proses perjalanannya seperti ini dia ikhlas kan semua sesuai mekanisme yang ada,” ungkap Idrus.

Novanto pun, kata Idrus, tidak akan menghambat pergantian pimpinan partai berlambang pohon beringin tersebut sebagaimana mekanisme yang ada. “Pak Novanto tidak akan melakukan sesuatu yang menghambat mekanisme baik di Golkar atau DPR. Itu pernyataan yang disampaikan ke saya,” kata Idrus.

Idrus yang kini sebagai Sekretaris partai lawas yang pernah menjadi pemenang pemilu selama lebih dari 30 tahun itu menerangkan, ada mekanisme yang mengatur pergantian pimpinan di partainya. Oleh karena itu,  ia meminta semua pihak bersabar.

“Biar kita selesaikan. Untuk menjalankan roda organisasi ada mekanismenya. Misalkan itu ada Pelaksana Tugas (Plt). Nah bagaimana membicarakan itu tergantung pada rapat pleno,” kata Idrus merinci pernyataan Novanto.

Untuk diketahui, Novanto ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan KTP elektronik oleh KPK. Novanto bersama sejumlah pihak diduga menguntungkan diri sendiri, orang lain, atau korporasi.

Sejumlah pihak itu antara lain Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo, pengusaha Andi Agustinus atau Andi Narogong, serta dua mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri, Irman dan Sugiharto.

Ia juga diduga menyalahgunakan kewenangan dan jabatan saat menjabat Ketua Fraksi Partai Golkar. Akibat perbuatannya bersama sejumlah pihak tersebut, negara diduga dirugikan Rp 2,3 triliun pada proyek Rp 5,9 triliun tersebut.

Orang nomor satu di institusi legislatif itu juga sempat dirawat di Rumah Sakit Medika Permata Hijau dan dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pasca mengalami kecelakaan mobil tunggal.

Kemudian Novanto ditahan di Rutan  KPK setelah penyidik menyatakan bahwa kondisi kesehatannya memungkinkan untuk dibawa keluar rumah sakit dan menjadi tahanan institusi rasuah tersebut. (rep/kpc).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *