Perkara Cek Rp 1 Miliar,Terdakwa Turnip Merasa Mau Diperas

Medan – Patennews.com: Sidang perkara dugaan penipuan cek Rp 1 miliar dengan terdakwa Mandalasah Turnip (MT) dan korban Juli Richard MP Simbolon (JRMS) yang merupakan ahli waris Almarhum Hamonangan Simbolon (HS), mulai terungkal fakta yang terang.

Parahnya, fakta kronologi yang mencuat dipersidangan, khususnya prihal sebab musabab penerbitan cek, serta tidak dihadirkannya bukti berupa bon dan catatan pengeluaran sehingga terdakwa harus membayar korban Rp1 Miliar, belakangan membuat terdakwa tersadar kalau dirinya merasa mau diperas.

“Saya baru tersadar, kalau saya mau diperas, soalnya pada saat sebelum saya akhirnya mengeluarkan cek, psikologi saya diganggu JRMS lewat cara menghambat pekerjaan proyek di Siantar yang sudah deadline,” kata Mandalasah Turnip usai sidang di PN Medan, Rabu (12/2).

Pada saat itu, lanjut Turnip, dirinya lagi panik apalagi proyek di Siantar yang diganggu JRMS tersebut bukan cuma deadline, namun sudah kena denda keterlambatan.

“Artinya kalau keterlambatan itu berlarut denda akan semakin besar, makanya mau tidak mau saya harus mengambil win win solusi kepada JRMS, akhirnya saya mengeluarkan cek, namun dengan kesepakatan akan bisa dicairkan bila anak almarhum HS sahabat saya itu bisa menunjukkan bukti pengeluaran berupa bon atau catatan senilai Rp 1 miliar,” tukasnya.

Namun, ternyata sampai saat dipersidangan tadi JRMS tidak bisa tunjukkan bukti pengeluaran dan catatan pengeluaran. “Karenanya saya menjadi yakin kalau dirinya akan diperas lewat cek yang dikeluarkan itu,” sebutnya sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan diwarnai mimik kesal pada raut wajahnya.

Anehnya lagi, dipersidangan tadi terungkap ada surat somasi dari pengacara JRMS yang merupakan pentolan salahsatu media cetak terbitan medan itu, setelah saya dilaporkan kepolisi.

Padahal, logika hukumnya somasi diterbitkan untuk sarana berdamai sebelum ke ranah hukum. “Jadi terbesit dibenak saya kalau laporan polisi itu mau dijadikan power untuk berdamai lewat somasi, agar saya mengeluarkan duit,” ulasnya mengenang

Semua Bukti Ditolak Hakim

Sebelumnya, sidang perkara penipuan cek Rp1 miliar yang digelar di PN Medan, agenda pemeriksaan terdakwa, dengan Majelis Hakim yang diketuai Irwan Efendi, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Dwi Meily Nova SH, MH dan Sri Lastuti, SH, M. Hum

Memulai sidang Ketua Majelis Hakim mempertanyakan kepada terdakwa MT sebab dikeluarkannya cek Rp 1 miliar. “Bagaimana akhirnya bisa muncul cek Rp 1 miliar,” tanya Irwan Efendi.

Waktu itu, kata Mandalasah Turnip, JRMS datang ke kantor, minta agar diberikan cek. “Tapi sebelum saya berikan cek, kami sepakati waktu pencairan di mundurkan, dengan komitmen sebelum pencairan, JRMS memberikan bukti pengeluaran dan catatan almarhum orang tua korban,” bilangnya kepada hakim.

Lalu, sambut Irwan Efendi, apakah saudara mengeluarkan 2 cek..? “Benar pak hakim, yang pertama kesalahan mencatat nama lengkap JRMS, kemudian saat itu juga cek diganti setelah disesuaikan dengan KTP,” ulas Mandalasah Turnip.

Sementara JPU, Sri Lastuti menyoal kesalahan menulis cek sebanyak 2 kali. “Kenapa bisa 2 kali salah,” tanya JPU yang akrab disapa Tuti. “Selain saya lagi kalut karena pekerjaan terganggu, pada cek kedua saya kurang memperhatikan. Begitu di letakkan cek di meja oleh kurir, ya saya tulis langsung,” rinci Mandalasah Turnip.

Selanjutnya Mandalasah Turnip membeberkan dalam persidangan, kalau JRMS sebelum pemberian cek, sempat mengganggu proyek di Siantar dan Kota Medan. “Di Siantar alat berat dihalangi untuk bekerja, kemudian rekening perusahaan saya diupayakannya agar dirubah dengan mendatangi penyelenggara kegiatan,” cetusnya.

Sesi lainnya, Hakim Ketua Irwan Efendi meminta JPU menghadirkan bukti pengeluaran korban senilai Rp 1 miliar, meski terlihat bundelan dibawa ke meja hakim oleh JPU dan korban, namun akhirnya ditolak hakim. “Apa yang kalian berikan ini, itukan invoice dari perusahaan terdakwa,” celutuk hakim sambil tangannya mengembalikan berkas ke JPU.

Begitu juga halnya, ketika JPU memberikan bukti berupa somasi dari korban, hakim ketua tampak kesal. “Ini bukti untuk perkara perdata, bagaimana kalian ini,” celutuk hakim ketua sambil menyingkirkan berkas itu ke arah JPU.

Sama halnya dengan bukti lainnya berupa rekaman suara yang diajukan JPU ke Majelis Hakim, terlihat mentah ditolak hakim.

Sekedar diketahui, terdakwa Mandalasah Turnip menjadi rekanan kerja dan sebagai pemenang tender di dalam proyek pembangunan Jembatan III STA 05+700-STA 05+724 (Jembatan Talun Kandot I) di Daerah Kecamatan Sitalasari Kota Pematang Siantar.

Bahwa pengerjaan proyek tersebut dilaksanakan sesuai Surat Perintah Kerja Nomor: 00006/KONTRAK/LU-PPJ.DAK/1.03.01.1/VI/2018 tanggal 25 Juni 2018 yang dimulai pada tanggal 25 Juni 2018. Dan fisik dari proyek pembangunan Jembatan III STA 05+700-STA 05+724 (Jembatan Talun Kandot I) di Daerah Kecamatan Sitalasari Kota Pematang Siantar tersebut telah selesai 100 % dikerjakan oleh PT Lintong Bangun Makmur dan sudah diserahterimakan oleh terdakwa Ir. Mandalasah Turnip kepada Dinas PUPR (Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang) Kota Pematang Siantar pada tanggal 18 Februari 2019.

Sebagai pemenang lelang tender pengerjaan proyek pembangunan Jembatan III STA 05+700-STA 05+724 (Jembatan Talun Kandot I) tepatnya di Daerah Kecamatan Sitalasari Kota Pematang Siantar, terdakwa Ir. Mandalasah Turnip menyerahkan pengerjaan proyek tersebut secara lisan kepada almarhum Hamonangan Simbolon dan mulai dikerjakan oleh Alm sejak April 2018.

Bahwa di dalam pengerjaan proyek tersebut, Alm telah mengeluarkan modal/ dana baik untuk pembelian material maupun untuk upah pekerja.

Pada saat pengerjaan proyek tersebut berjalan dan dikerjakan oleh Alm, pada tanggal 13 Desember 2018 Hamonagan Simbolon (Alm) meninggal dunia. Kemudian pekerjaan tersebut dilanjutkan oleh terdakwa Ir. Mandalasah Turnip karena pengerjaan yang dilakukan oleh Alm baru 60%. (dra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *